PENYESALAN
Waktu pertama kali kita bertemu, aku merasa mendapat seorang teman, tapi sayang menurutku dia tidak suka, tidak mau menjadi temanku, teman baikku. Sebab ketika ku mencoba untuk mendekati ia malah menghindar. Namun demikian, aku terus berharap suatu saat ia dapat menjadi temanku, teman baikku.
Atas kegigihanku untuk mendekatinya, akhirnya kudapatkan jawaban, bahwa selama ini dia selalu menghindar, ternyata dia malu, karena sebenarnya dia menyukaiku. Itu aku dapatkan dari penjelasan teman dekatnya.
Setelah mengetahui, kalau dia suka padaku, aku justru tidak berharap lagi dia menjadi teman baikku. Itulah pertimbanganku, sebab bila jadi berteman nanti dapat mengganggu konsentrasi belajarku.
Tetap entah mengapa, saat aku belajar pikiranku melayang mengingatnya, dan anehnya tidak bisa menghilangkannya dari pikiranku, walau untuk sesaat.
Keesokan harinya aku bertemu dengannya di sekolah, tetapi lagi-lagi aku bingung harus mengucapkan apa, aku salah tingkah dibuatnya. Sikap aku yang demikian itu diketahui oleh teman-temanku dan menganggap kalau aku sedang jatuh cinta dengannya. Saat salah satu teman menanyakan tentang hal itu, akupun menolak untuk mengakuinya.
Setiap hari di sekolah aku bertemu dengannya dan akupun lebih sering memikirkannya akhir-akhir ini. Sering aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku sedang dilanda asmara, dan akupun memperoleh jawabannya sendiri, ya! Kata hatiku. Namun lagi-lagi fikiranku tetap tidak mau mengakuinya. Karena di samping dapat mengganggu konsentrasi belajarku, juga aku baru tahu dari teman dekatnya, bukan dia sendiri yang mengatakannya. Jadi aku masih ragu, apakah benar dia mencintaiku. Aku tidak munafik, kalau aku memang mencintainya, tapi sebagai seorang wanita rasanya tabu untuk terlebih dahulu mengucapkan rasa cintaku padanya. Untuk itu aku sangat berharap, kalau dia terlebih dahulu mengutarakan kata cinta padaku.
Penantianku terhadapnya sudah berjalan lebih kurang satu tahun, tapi keberaniannya untuk mengutarakan kata cinta padaku belum juga kunjung tiba. Bahkan di sepanjang penantianku, aku menolak beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku. Kurang setiakah aku dalam menunggu?
Waktu terus berlalu, sampai akhirnya kau meninggalkan diriku, pergi jauh ke kampung halamanmu yang nan jauh di sana dan tak jelas entah di mana.
Semenjak itu aku memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatiku, pada teman-temanmu yang dulu mengatakan padaku kalau kau menaruh perhatian terhadapku.
Walaupun akhirnya hanya bertepuk sebelah tangan, tetapi aku tetap merasa sedih atas kepergianmu.
Terkadang aku berfikir mengapa harus berpisah sebelum bersatu? Aku hanya dapat mengingat, berharap kau kembali dan mengenangmu. Sungguh aku sangat menyesalkannya.
Hingga pada suatu saat salah seorang temanmu mengatakan padaku, bahwa ia akan kembali lagi. Percaya nggak percaya atas berita tersebut. Tapi yang jelas andaikan ia kembali aku takkan menyia-nyiakan kesempatan itu, sebab aku tak ingin menyesal kedua kalinya.

Ya itulah yang dinamakan Cinta Pertama...
BalasHapushehehe.........tp itu cinta monyet k
BalasHapus:))
BalasHapus